Cerpen Risalah Janji karya Dika Afandi

Risalah Janji

Oleh: Dika Afandi*

Luka yang tercipta akan sulit kulupa, sekalipun sakit terasa. Aku ingin sekali melupakannya, namun acapkali aku tak bisa. Aku terluka, tapi aku tetap mencintainya.

Perlahan aku melangkah, menghampiri cermin lalu berputar di hadapannya. Cantik. Ya, benar. Aku cantik. Tapi kenapa Jo semakin jauh dariku?  Memang selama ini aku lebih banyak menatap dan berpikir tentang sesuatu dengan hati. Maka sebulan lalu, saat Jo berada di sampingku, saat kami berdua di sebuah taman pojok kota, lantas aku bertanya padanya, “Kapan kau akan menikahiku? Sudah sekian lama kita pacaran, apakah tak terbesit di hatimu keinginan untuk bisa lebih serius lagi dengan hubungan kita?”

“Lin… aku…,” jawabnya kelu dan terputus. “apakah aku pantas untukmu, Lin? Sedangkan aku… Ah, sudahlah. Saat ini kita tak perlu berpikir tentang pernikahan. Lagipula kau kan masih kuliah. Jadi, sudahlah, Lin.”

“Oke. Aku sudah semester akhir, dan kau harus berjanji untuk meminangku setelah aku wisuda nanti,” pintaku.

“Ya, a…aku janji,” janjinya meyakinkan, lalu ia mengajak pulang. Kami beringsut dan pergi.

Menurutku, ia tergolong lelaki yang bertanggung jawab; menerimaku apa adanya, dan menyayangiku dengan segenap hati. Itu termasuk tiga syarat—yang menurutku—klise agar seseorang bisa mempunyai hubungan lebih denganku. Namun satu hal yang  tak kusuka, dalam beberapa pekan ini ia jarang menghubungiku, apalagi mau mengajak bertemu dan makan malam di kafe pojok taman kota yang seperti ia lakukan dulu. Tidak. Ia pasti sibuk. Entah sibuk dengan apa.

Aku di sini selalu mengingatnya, merindukan kebersamaan yang tercipta saat awal-awal kami berjumpa. Aku terus mencoba memahami kondisinya. Barangkali ia sibuk dengan pekerjaannya di luar. Sebagai seorang pegawai kantoran, mungkin ia ditugaskan ke luar kota. Dan saat aku menghubunginya—setelah sekian lama ia tak menghubungiku—ia hanya bicara sebentar. Bicara yang terkadang tak pernah kupahami.

“Halo?” tak ada sahutan setelah ia angkat telepon. “Halo?” hening, tetap tak ada sahutan. “Ya, halo. Ini Lin, ya?” ia bertanya perlahan. Datar. “ Sudah dulu, ya, Lin. Nanti aku yang akan menghubungimu.”

“Cuma begitu?”

“Oya, kemarin aku kirimkan bunga Krisan ke rumahmu. Apakah sampai kepadamu? Di buket bunga itu ada kartu ucapan yang isinya sangat spesial! Sudahlah, kau akan tahu sendiri!” ucapnya menenangkan. Aku sedikit tersenyum, namun di hatiku masih tersisa harapan untuk ia cepat datang, menemaniku lagi.

“Aku ingin bertemu denganmu, Jo. Aku rindu. Beberapa bulan lagi aku akan wisuda!”

“Ya,” jawabnya pelan. “Sudah dulu, ya!” lalu ia mengakhiri pembicaraan kami.      Selalu. Setiap aku menghubunginya, kami hanya bicara sebentar. Setelah itu pasti ia putuskan pembicaraan.

***

Barangkali Lin tak pernah tahu, di sini sebenarnya aku sama sekali tidak sibuk dengan pekerjaanku. Sungguh, ia tak mungkin akan pernah tahu. Sedikit yang ia tahu, aku sibuk dengan pekerjaanku di luar kota dan tak sempat bertemu dengannya. Ia terlalu bodoh. Dasar wanita bodoh! Padahal aku hanya berbohong padanya bahwa aku sibuk dengan pekerjaanku di luar. Sebagai pegawai kantoran memang begitu, ucapku berbohong padanya suatu kali. Begitu indah kata-kataku itu. Meskipun suatu kali ia akan tahu bahwa aku di sini mengkhianatinya; selalu berjalan dengan wanita lain, setiap malam bergonta-ganti pasangan, bergandengan tangan dan berciuman dalam gelap, dan tentu bercinta di atas ranjang—, namun aku takkan pernah menyesal. Lagipula ia juga tak tahu kalau aku sebenarnya sudah mempunyai istri. Satu lagi, istriku juga belum tahu jika aku selingkuh dan bermain wanita di luar. Yang ia tahu adalah aku suaminya yang benar-benar setia. Ya, setia di sini menurutku: selingkuh tiada akhir.

Selingkuh itu indah. Tentu saja! Malam-malam yang kulewati tak pernah murung. Suatu waktu wanita menghambur ke dalam pelukan, memberi kehangatan. Semua lelaki pun tentu akan senang dengan kemegahan cinta dalam perselingkuhan yang indah seperti ini. Mungkin hanya kumpulan suami takut istri yang tak mau ikutan.

Namun, pernah suatu saat, dalam ketidaksadaranku karena terlalu banyak minum, teler, wajah istiku berkelebat, datang ke tempat mangkalku. Sesekali wajah itu berubah; Lin, Iras, Eni. Ah, aku terlalu teler. Telah tiga gelas kuteguk minuman itu. Mataku tak dapat dipercaya lagi. Sesekali aku tersenyum. Dan ah, wanita itu bersama dua orang laki-laki. Tubuhnya kekar, berpakaian serba hitam, kaca mata hitam, dan rambutnya gondrong. Mereka menghampiriku.

“Apa-apaan ini? Kalian  siapa? Lepas!” bentakku. Tetapi aku lunglai. Aku masih teler dan sesekali berkjingkrak-jingkrak lalu tubuhku kemudian ambruk. Saat itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku seperti diseret ke luar. Dan yang kurasakan, setelah aku sadar, di sekujur tubuhku sakit, bibirku terluka, berdarah, pipiku lebam kebiruan.  Dari hidungku tersisa darah yang masih belum sepenuhnya kering, lengket.

Aukh…Hei, aku di mana? Kau siapa?” tanyaku pada seorang gadis yang duduk di sampingku, dan menotolkan tisu pada luka di bibirku.

“Tenanglah. Jangan banyak bergerak. Tubuhmu masih lemah.” ia tersenyum, manis. Ah, masih saja pikiranku melayang pada kemegahan cinta. Bagaimana kalau aku tidur dengannya sekali saja. Bibirnya merah ranum. “Kau di rumahku. Aku Ziyana. Kau Jo, kan?” Aih-aih, dari mana gadis ini tahu namaku. Gadis yang cantik dengan nada bicaranya yang lembut. “Maaf, tadi aku lancang mengambil dompetmu untuk mencari kartu namamu. O iya, aku sudah menelepon istrimu, sebentar lagi pasti ia datang ke sini.”

“Terima kasih!”

Aku menjaga sikap. Karena sesaat setelah itu, istriku akan segera datang. Aku tidak berbuat yang tidak-tidak padanya. Tapi jangan kira aku tak ganas lagi. Tapi entah mengapa aku diam. Lagipula tubuhku sakit. Tak bisa berbuat banyak.

Lalu sesaat kemudian ada yang mengetuk pintu. Itu pasti istriku. Ya, benar. Ziyana lalu menghambur ke pintu dan  membukanya. Kulihat, setelah mereka berpapasan, mereka sepertinya sudah saling kenal sebelumnya.

“Terima kasih, ya, Na. Maaf aku tak bisa lama-lama. Aku akan membawa pulang suamiku.” Ya, mereka sudah saling kenal. Entah di mana. Aku hanya diam. Istriku juga diam. Begitu pun saat kami dalam mobil yang melesat menuju pulang, istriku memang baik dan pendiam. Tentu juga selalu percaya padaku. Wanita setia. Tapi ia bodoh! Tak pernah sesekali ia ingin tahu tentang aku di luar.

***

Aku sekian lama menunggunya. Di sini aku benar-benar sangat mengharapkan kehadirannya. Dengan malam yang sunyi, siang yang sepi, dan senja yang selalu saja kulalui sendiri—ditemani bayangnya yang terus berkelebat.

Di atas buffet, handphone-ku berdering, berkelip-kelip. Aku dengan cepat mengambilnya. Barangkali dari Jo. Oh, ternyata Ziyana! Ya, sahabatku di kampus.

“Ya, ada apa, Na?” tanyaku, memulai percakapan.

“Kemarin aku bertemu dengan Kak Aira, kakak kelas kita sewaktu SMU dulu. Ingat, kan?”

“Kak Aira… Oh, iya. Aku ingat. Kamu di mana bertemu dengannya?”

“Ia datang ke rumahku. Ia sudah punya suami, Lin. Tampan dan gagah. Suaminya itu kutemukan di depan klub malam di pojok taman. Ia tergeletak tak berdaya. Tubuhnya terluka, seperti dipukuli orang-orang.”

“Kau lalu memapahnya ke rumahmu?”

“Ya. Aku kasihan melihatnya. Tapi sebenarnya… Ah, sudahlah. Aku sebelumnya tak tahu jika itu suami Kak Aira,” cebisya. “Aku sudah tahu alamat rumahnya. Ia sudah pindah ke ujung kota, Lin. Kalau kau mau, sebentar lagi kita ke sana, yuk? Ajaknya.

“Tentu!”

Lama aku menunggu. Rasa senang dan sedih bercampuraduk dalam kepalaku. Tiba-tiba aku teringat satu hal: Jo, kau ke mana. Lama aku menunggumu.

            Aku tersadar dari lamunanku ketika mobil Ertiga abu-abu berhenti di depan rumahku. Aku menghambur ke luar. Terlihat Ziyana tersenyum riang di balik kaca mobilnya.

“Lin, ayo berangkat!” aku bergegas menaiki mobil itu.

Mobil yang kami tumpangi melasat, meliuk-liuk di jalanan panjang kota.

“Oh, iya. Pekerjaan suami Kak Aira itu apa?” tanyaku penasaran.

“Dia itu sebagai pegawai kantoran.”

Kembali aku teringat tentang seseorang yang telah memberikan harapan padaku. Berjanji akan meminangku suatu saat nanti. Tapi aku tak tahu di mana ia saat ini. Pekerjaannya sama dengan suami Kak Aira: pegawai kantoran. Akankah Kak Aira juga merasakan hal yang kurasakan? Semoga saja tidak.

Aku terus mengingat segala hal tentangnya. Hingga kurasakan mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah yang megah. Kami turun dari mobil, beranjak ke beranda rumah. Pintu terbuka. Kak Aira muncul dari balik pintu dengan sebuah senyuman.

“Siapa, sayang?” tampak seorang laki-laki keluar perlahan dari balik pintu. Sepertinya, ia lelaki yang tak asing lagi di hidupku.

 Annuqayah, 18 Nopember 2013

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*