Cerpen Kau Punya Luka karya Dika Afandi

Posted on

Selalu. Setiap mendung memayungi langit kota ini, aku melihat seorang perempuan menghampiri satu-persatu dari orang-orang yang melintas dan bertanya demikian, Kau punya luka? Aku heran, kenapa hanya setiap mendung saja aku melihatnya. Kenapa hanya pertanyaan itu saja yang bergulungan dan berloncatan dari mulutnya ke orang-orang di kota ini? Kenapa juga saat orang-orang menjawab: tidak, maka perempuan itu menangis, lalu pergi begitu saja? Namun, suatu kali ia tersenyum jika sebagian dari mereka menjawab: apa maksudmu? Dan justru jika mereka bertanya balik padanya, ia pun tersenyum.

Perempuan itu menatapku dari jauh. Kulihat, tangisnya seketika berhenti. Ia melangkah dengan pasti menghampiriku. Saat langkahnya terhenti di depanku, ia menatapku lekat, tapi sendu. Di wajahnya, kulihat kesedihan terlipat. Matanya redup. Bibirnya masih terkatup. Mangapa ia tak bertanya padaku seperti yang dilakukannya pada orang-orang, padahal mendung masih tak hilang dan belum menjadi hujan? Kutatap wajahnya, seketika ia menunduk, kemudian pergi; tanpa kata, tanpa menoleh lagi, hingga tubuhnya lenyap di gang yang menuju ke tempat lain di kota B ini.

Aku sungguh benar-benar heran dengan munculnya perempuan itu. Begitu pun dengan orang-orang yang ia tanyakan, nyaris orang yang sama. Entah mengapa mereka tak pernah marah dan tak menganggapnya gila dengan perilaku perempuan itu? Siapa sebenarnya perempuan itu? Sungguh misterius. Barangkali —menurutku— ia tengah terluka dan ingin bercurhat tentang luka yang menderanya, atau mungkin ia mencari sebuah luka! Tapi akan ia apakan luka itu? Entahlah.

Di sela-sela kemacetan jalan kota B ini, aku begitu kesal. Kendaraan berseleweran tiba-tiba berhenti. Lamat-lamat kudengar orang-orang berteriak. Ya, lagi-lagi mahasiswa berdemo masalah kenaikan BBM. Lamat-lamat kudengar pula tentang kenaikan harga manusia. Lama waktu berselang, aku menunggu dengan lelah, juga kekesalan, hingga akhirnya kemacetan usai, maka langsung kutancap gas. Namun seketika, aku tergeragap. Di sebuah kaca depan-atas dalam mobilku, kulihat perempuan itu duduk di belakang. Dengan pelan kudengar ia bertanya padaku, kau punya luka? Aku menoleh. Perempuan itu tak ada. Entah kemana. Aku tak percaya akan semua. Apa ini hanya ilusiku saja? Entahlah. Aku tak menghiraukan dan mempercepat laju mobilku untuk sampai di rumah.

Kulihat, di ambang pintu, ibu menungguku.
“Ada apa, Bu?”
“Ada perempuan —entah anak mana, ibu tak pernah lihat— tadi mencarimu ke sini,” jawab ibu singkat. “kau punya janji?” Tanya ibu kemudian.
“Tidak!” tandasku.
“Ya sudah. Masuklah!”

Pada sebuah cermin di kamarku, tergantung secarik kertas kecil bertuliskan Kau punya luka? dan tercatat di bawahnya agenda 12 April 2008. entah apa maksud agenda itu, dan siapa pula yang menuliskannya? Apa jangan-jangan perempuan penanya luka itu? Ah, mana mungkin ia bisa masuk kamar ini? Apalagi masuk kamar ini, rumahku pun belum tentu ia tahu! Sungguh, aku tak mengerti.

Sejenak, ada yang mengetuk pintu rumah. Aku melangkah ke luar kamar, membuka pintu dengan perlahan. Tak ada siapa-siapa, berulang kali, sampai kulelah, namun tetap tak ada siapa-siapa. Hingga pada terakhir kalinya, waktu kubuka. Perempuan itu? Kenapa ia bisa sampai ke sini? Apakah perempuan itu yang dimaksud ibuku tadi? Ah, rasanya tidak mungkin, dari mana ia tahu rumahku?
“Kau…” katanya gugup. Aku hanya diam. “kau punya…” lagi-lagi katanya terputus. “Kau punya luka maksudmu?” aku memperjelas katanya yang gugup dan terputus itu. “Baiklah, mari masuk dulu” pintaku.

Sekian lama hening, maka kumulai menjawab pertanyaan itu, “Ya, aku punya luka. Tentu semua orang mempunyai luka. Lantas?” aku mencoba bertanya dan berharap akan terjawab tanda tanya yang menggantung dalam pikiranku selama ini.
Di luar, langit semakin gelap, dan hujan tiba-tiba turun deras. Amat deras. Petir menyambar menyilaukan mata, menciutkan nyali. Perempuan itu tersenyum, entah apa yang ada di pikirannya? Namun, seketika, wajahnya mulai tergurat kesedihan yang teramat.
“Aku sedih. Sesedih langit yang menurunkan hujan,” ucapnya memotong senyap dan samar di antara kecipak air hujan di atap. Ia bercerita tentang apa yang terjadi padanya, tentang lukanya. Entah mengapa semua yang ia ceritakan, nyaris sama dengan apa yang dialami mendiang istriku.
“Kisah hidupmu nyaris sama dengan apa yang dialami mendiang istriku. Sungguh!” ucapku meyakinkan, juga mengokohkan. “Namamu siapa?” tanyaku kemudian.
“Ziyana,” jawabnya singkat.
“Aku Fatra. Kamu penduduk Kota B ini juga?” ia menggelengkan kepala. “Di Kota A?” tetap ia menggeleng. Barangkali ia penduduk luar kota, atau mungkin dari kampung, batinku.
“Aku hanya butuh seseorang yang memberiku senyuman saat terbangun di pagi hari, dan memelukku di pagi hari yang buruk (1)” ucapnya kaku. Lalu ia mendekat padaku, sedangkan di luar, hujan mulai mereda, tinggal gerimis bersama polesan pelangi di balik awan hitam yang mulai menyingkir. Sesaat, langit biru dan tampak bersih tanpa awan yang berkarat.
“Pelangi itu indah,” bisiknya lembut mengalun di telingaku. “Aku akan pulang sekarang. Besok atau kapan aku akan kembali.” Ia pergi, dan aku hanya mengantarnya sampai di pagar rumah. Taksi lalu terlihat semakin mendekat. Ia mengacungkan tangan, dan taksi itu berhenti di depannya. Lalu ia masuk. Aku hanya diam terpaku hingga taksi itu lenyap.

Entah mengapa aku merindukan perempuan penanya luka itu. Sudah seminggu kulalui hari tanpa melihatnya lagi di kota ini, padahal ia berjanji akan kembali.

Bersama detak jam yang sepi. Bersama hujan yang dingin; aku di sini, sendiri. Di luar hujan semakin mereda. Pelangi mengoles langit di balik awan hitam yang semakin menghilang. Sesaat, langit menjadi biru dan bersih tanpa awan. Teringat aku pada perempuan itu, dulu yang berbisik lembut di telingaku saat-saat seperti sekarang ini, saat langit biru tanpa awan dengan polesan pelangi sehabis hujan.

Sejenak, ada yang mengetuk pintu. Aku melangkah membuka pintu. Aku terkejut. Perempuan itu, Ziyana, datang membawa anak kecil. Lalu ia berucap, “Luka itu telah menjelma anak yang tampan ini.” aku tak mengerti maksudnya. “Ini anak kita. Ingatkah kau telah mencipta luka di 12 April, dulu?” kata-katanya membuatku heran. Kucoba mengingat pada apa yang kulakukan di hari itu. Tapi apa. Aku benar-benar lupa.
“Aku tak ingat sesuatu pun di hari itu,” tandasku, maka dia bercerita panjang lebar tentang kami, tentang suatu malam di mana aku memagut sejumput kebahagiaan dengannya di kafé itu. Hangat dan lekat di antara bunyi piano mengalunkan Love Is Many Splendoured Thing, seakan mengabarkan kemegahan cinta yang tak mungkin terbayangkan, dan seketika itu bunga-bunga berhamburan di udara. Kami berpelukan. Semakin erat, hingga alunan piano berhenti (2). Setelah itu… aku menghentikan ceritanya. Ya, telah kuingat masa itu. Dia adalah perempuan yang menjadi teman sepiku, malam itu, di Kota A.
“Dan dosa terindah itu tak mungkin kulupa,” ucapnya. “tahukah kamu, luka itu akan usai saat ini, andai kau … ah, kau tentu tahu maksudku,” katanya terhenti.
“Apa kau kira aku akan menikahimu? Jangan-jangan itu bukan anakku. Kau wanita malam, tentu banyak lelaki lain yang melampiaskan nafsunya padamu,” selorohku.
“Aku hanya ingin dirimu. Dan benar, ini anak kita,” ucapnya meyakinkan.
Aku hanya diam, begitu lama. Ziyana juga diam. Anak kecil itu kemudian tersenyum, lalu berucap, “Rumah ini bagus, ya, Bunda. Aku pasti bahagia tinggal di sini.”

KCN, 03 Oktober 2013

Catatan:
1 Kutipan dari novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu oleh Tereliye.
2 Lihat cerpen Rendezvous karya Agus Noor

*Dimuat di Majalah Majalah Iltizam Latee 2 Annuqayah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *