[Cerpen] Dua Wajah Ibu oleh Dika Afandi

Dua Wajah Ibu

Cerpen: Dika Afandi*

            Aku juga punya ibu, sama sepertimu. Tapi aku mempunyai dua ibu. Dan kau tahu, sejak dulu aku tak pernah tahu siapa di antara keduanya yang telah melahirkanku! Mereka tulus menyayangiku dan aku menyayangi mereka. “Hidup harus selalu bahagia. Meskipun kita keluarga tak berpunya, tapi hari-hari yang terlampaui selalu mengalirkan kebahagiaan dan rasa syukur, bukan.”

“Cukup dengan ini kau takkan jauh dari rumah!” Ya, makanan itu. Sederhana, tapi aku menyukainya. Membuatku rindu pulang. Tak perlu pizza yang mahal. Tak penting ayam goreng yang gurih. Tak perlu Nachos dari Meksiko yang katanya manis dan sexy itu. Cukup masakan mereka; dua ibuku: Nasi kuah kelor dan ikan pindang kesukaanku…

Namun, semua hal indah itu telah usai. Malah kemudian aku tanpa dua ibuku lagi. Mereka bilangnya mau keluar sebentar pagi-pagi itu, hingga larut malam aku menunggunya di beranda, tak ada tanda-tanda pulang. Entah apa yang terjadi, tak ada kepastian.

Berhari-hariaku menunggu mereka. Aku semakin sepi. Masakan nenek tak seenak masakan ibu. Hingga kemudian bapak-bapak yang tidak aku tahu sebelumnya menghampiriku saat aku di beranda. “Nak, kamu tahu bapak siapa dan mau apa ke mari?” tanya bapak-bapak itu condong ke mukaku.

“Bapak pengemis? Atau bapak mau beri kabartentang ibu yang tak kunjung pulang?” tanyaku dengan nada polos. Aku memang tak tahu banyak tentang kepergian dan kerinduan. Kata kerabat kepergian itu menyakitkan sama halnya pula dengan kerinduan. Dan saat ini aku merasakannya. Bagaimana dengan ayahku? Kata ibu ayah pergi merantau sejak umurku menginjak 2 tahun. Tapi bertahun-tahun tak kunjung pulang, dan aku tak mendapat kabar sedikit pun darinya.

“Aku ini ayahmu, Nak. Maaf ayah terlalu lama tak pulang.” Dengan tangis rindu dia mendekapku. Ada rasa hangat yang kurasakan. Ada rasa bahagia yang melerai di pagi dengan cahaya keemasan itu.

“Ayah, ayah dari mana saja, Diz kangen ayah. Dua ibuku pegi tadi maalam. Semalam aku sendiri tidur di beranda menanti ibu pulang. Diz takut, Yah.”

Ayah kemudian menggendongku ke dalam rumah. Di ruang tamu ayah mulai berbicara banyak hal. Termasuk tentang ibu dan rencana ayah menyekolahkanku ke sekolah dasar. Tapi aku sama sekali tak berkeinginan untuk sekolah. Sekolah hanya membuatku tak bahagia. Aku menjadi sibuk dengan pelajaran-pelajaran umum. Aku lebih suka mengaji saja pada Eyang Sura. Belajar agama. Bagiku lebih baik begitu. Toh aku tak ada keinginan menjadi orang besar. Cukup hidup sederhana, tanpa tugas yang mengejar dan aku juga tak meninggalkan Tuhan di lima waktuku.

“Jadi Diz tidak mau sekolah? Mau jadi apa kamu, sekolah tidak mau. Nak, cukup ayah yang goblok dan tak berguna ini!”

“Tapi aku bisa juga kan belajar di surau Eyang Sura. Toh Diz juga belajar banyak hal. Diz lebih senang belajar di surau daripada di sekolah.”

“Ibumu berpesan agar supaya kamu disekolahkan segera.”

“Sudah sejak setahun yang lalu ibu memaksaku sekolah, tapi Diz tak mau. Ibu tak marah dan selalu sayang pada Diz.”

“Aku juga menyayangimu, Nak. Dengan itu kemudian aku ingin kamu sekolah. Aku ingin kamu jadi orang sukses. Membuat ayah dan ibu bangga.”

            “Cukup dengan hidup sederhana dan bahagia. Diz tak terlalu ingin sukses menjadi apa-apa. Kata Eyang Sura, hidup itu sederhana. Jika jadi orang besar lihat ke bawahnya. Jika pun jadi orang tak punya, cukup selalu bersyukur. Dengan itu kebahagiaan mengalir.”

            “Tahu apa kamu tentang arti hidup. Jadi gurumu itu mengajarkan seperti itu ke kamu. O, sekarang kamu menjadi malas dan tak mau sekolah. Bagus, ya. Kamu mau jadi orang miskin? Nenekmu tak akan lama lagi akan pergi. Kamu mau makan dari mana? Dagangan nenekmu sudah  tak akan menjamin kamu hidup sederhana dengan bahagia itu esok.”

            Aku diam. Ayah kemudian pergi meninggalkanku di ruang tamu. Seperti sepi, aku senyap dalam diam. Termangu. Tik tik jam dinding, tak bisa menghiburku. Lelah.

            Aku masih membayangkan dua wajah ibuku yang sekarang entah di mana? Aku merindukannya untuk pulang. Saat ini—tentu—mereka belum tahu bahwa ayah sudah di rumah. Atau barangkali mereka lebih dulu tahu dariku? Ah, entahlah. Ayah tak pernah sayang aku, tapi aku selalu menyanginya. Meski aku ditinggalnya pergi, aku selalu rindu kabar dan kepulangannya.

            Kini ayah bersamaku, tapi ibu yang kemudian pergi. Sejak ibu pergi dan ayah datang, aku kemudian selalu diam. Pergi keluar rumah malah mejadi keinginanku. Aku semakin tak suka rumah. Dulu aku tak bisa jauh dai rumah karena masakan dua ibu. Tapi akhir-akhir ini aku lebih suka ke luar. Begitulah kemudian aku.

            Aku sempat kemudian merasakan takut. Ayah menghilang entah ke mana semenjak aku datang ke rumah saat itu.

            “Nek, ayah pergi ke mana?”

            “Alah, kamu ini seperti tak tahu saja. Dia kan kerjanya malam-malam di tempat kotor!” kata nenek mencebis.

            “Dia jadi apa, pemulung atau pengemis. Kasihan ayah. Tapi kenapa malam hari? Apa mungkin jadi bos di sana. Hebat! Tapi aku tidak pernah tahu.”

            “Dia jaga bar, tempatnya perempuan-perempuan jalang.” cetusnya.

            “Nenek bercanda, kan…?” terkejut aku bertanya.

            “Sama juga dengan ibumu. Kamu tak tahu kan? Sekarang nenek katakan ini padamu, agar kamu tahu, Diz… Maaf nenek tidak sedari dulu mengatakannya padamu. Mereka mengancam nenek jika mengatakannya padamu.” Kemudian nenek pergi. Aku semakin sepi sendiri. Ayah, ibu, benarkah yang baru saja aku dengarkan dari nenek?

***

            Sampai kini, aku tak pernah tahu kabar tentang dua ibu. Begitu pula dengan kabar ayah. Sering aku berpikir akan mencari mereka, tapi ke mana. Aku tak tahu arah untuk itu.

            “Aku ingin pergi mencari ayah dan ibuku.”

            “Nak, jangan tinggalkan nenek sendiri. Kamu mau ke mana? Nenek sudah tua. Kamu jangan pergi. Tiada mungkin pula kamu akan dianggap sama mereka.” Memohon nenek berucap. Seraya tak rela aku tinggalkan. Sedari kecil, neneklah yang membiayaiku. Mulai yang belikan mainan, cemilan dan berbagai hal lain. Tak pernah sama sekali ibu yang memberikan, kecuali saat lebaran datang. Aku paham sama dua ibuku. Mereka lebih sukses nenek dalam hal menghasilkan uang. Tetapi aku senang dan sayang pada kedua ibuku, merekalah yang menjagaku dari kecil. Menemaniku bermain. Bercanda ria. Membacakan dongeng kesukaanku sebelum terlelap. Menyiapkan makanan kesukaanku. Lain halnya dengan nenek, dia hanya memberiku uang jajan.

            Sedikit yang tidakaku suka dari ibu adalah, dia selalu mengataka: “Minta saja uang sama nenekmu. Ibu tak ada uang.”

***

            Aku pergi hari ini, mencari dua waajah ibuku. Mungkin juga ayahku bersamanya. Tempat pertama yang aku tuju adalah bar pojok kota itu. Hanya  keramaian dan berbagai muda-mudi yang bergandengan di sana. Tak ada ibu. Tak ada ayah. Aku pergike tempat lain.

            Di ujung jalan itu, di antara derai tawa, di bawah lampu remang, kulihat dua wanita berpakaian mini yang ditutup mukanya. Aku menghampiri. Ada rasa ingin tahu yang berdebar di jantungku. Ada hal lain yang kurasa.

            “Ayah! Kenapa ayah berpakaian wanita? Ke mana ibu, Yah?”

            “Ibumu sudah kubunuh sejak pagi itu!”

            “Apa?!”

            Sumenep, 25 Juli 2014

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, alumnus MA Tahfidh Annuqayah, pernah bergiat di KCN (Komunitas Cinta Nulis) PP. Annuqayah Lubangsa Selatan.

7 Comments

  1. cerpenmu kamu ikutkan lomba, ya… gak nyambung sama temanya. tapi aku salut… bagus, bahkan dalam waktu yang sangat singkat kamu membuatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*