Cerpen Dika Afandi “Cara Selingkuh yang Baik”

Sebenarnya sangat sederhana bagiku, cukup berdempetan dengan Diz, maka akan terobati rinduku pada Lin, istriku.

Diz. Ya, seorang yang aku selalu dekat dengannya. Bukan pacar, apalagi istri. Bukan juga musuh! Diz hanyalah teman kuliahku, dulu. Teman sekantorku, sekarang. Setiap kali aku dekat dengannya, maka aku akan teringat pada istriku. Bau parfumya yang manis, lika-liku jalannya, tatapannya, pun dengan senyumnya. Semua nyaris sama. Dan aku diam-diam suka padanya.

“Apa? Kau suka padaku? Gila kau!” sergah Diz suatukali saat kukatakan padanya bahwa aku menyukainya.

“Ya. Denganmu, rinduku pada istriku akan terobati,” ucapku meyakinkan.

“Tapi…” lantas kubekap mulutnya. “Ssst… diamlah. Sekarang aku mau tanya, apakah tidak boleh aku menyukaimu, dekat denganmu, dan selalu bersamamu? Please!”

“Gian, kau… ah…” ia lantas pergi. Aku mengejarnya. Kutarik lengannya untuk segera berhenti. “Baiklah. Tapi, hanya sekadar suka. Atau seperti katamu tadi, aku menjadi obat penawar rindu pada istrimu saja. Tidak lebih,” balasnya. Aku gembira. Lalu Diz pergi, dengan mobil Xenia silver yang ditungganginya. Aku hanya menatapnya. Mendadak mobil itu berhenti. Ia buka kaca mobil itu, dan tersenyum padaku, sesaat. Kubalas senyumnya,  juga sesaat. Aku menatap kepergiannya, hingga mobil itu menghilang di kelokan jalan.

Aku tetap tak bisa menjelaskan, mengapa tiba-tiba aku menyukainya. Lebih-lebih saat aku duduk bersebelahan dengannya, perasaanku selalu berdebar-debar. Diz lalu akan menunduk malu bilamana aku menatapnya, dan ia akan tersenyum sesaat kemudian setelah itu. Entahlah, aku benar-benar telah gila barangkali. Bisa-bisanya aku jatuh hati padanya. Padahal di rumah, barangkali istriku akan selalu menungguku, menunggu dengan kesetiaan seperti yang selalu ia lontarkan dulu.

Aku selingkuh? Tidak, sepertinya aku belum mengkhianati istriku dengan pekerjaan sekeji itu. Tapi yang kulakukan sekarang dengan Diz apa namanya? Entahlah, aku tidak merasa bahwa aku telah selingkuh. Sudah kukatakan, aku hanya sekadarnya saja dekat dengan Diz, yang mana tujuanku adalah agar bagaimana rinduku pada Lin bisa terobati. Ya, barangkali hanya itu.

Di suatu malam yang pekat, pernah aku menonton dengan Diz ke bioskop. Dalam kegamangan malam, mulailah kugenggam tangannya lalu ia bersandar ke pundakku. Tanpa pengetahuannya, lalu aku menciumnya.

Memang tidak seperti halnya malam-malam saat aku dengan istriku. Malam yang gemerlapan kami sambil terus berdekapan dan berciuman di bawah kegamangan, juga sesekali kami tertawa-tawa. Rasanya seperti Seth dan Maggie dalam film The City of Angel. Seperti di film? Tidak, itu semua nyata. Benar-benar aku mengalami dan merasakannya.

“Akan selalu kupertahankan keyakinanku bahwa kau takkan meninggalkanku.”

“Ya, sampai kapan pun. Sampai bumi meledak dan kita berhamburan menjadi serpihan debu pun aku tetap akan berdiam dengan kesetian ini.”

“Seperti kebiasaan para lelaki, tentu akan mengembara mencari cinta yang lain saat mereka mulai bosan dengan satu wanita pasangannya.”

“Kau yakin kan hal itu? Itu tidak denganku, Lin. Percayalah, itu bukanlah termasuk aku!” kuyakinkan dirinya. Namun di hatiku, aku bimbang akan perkataan yang tak sengaja meluncur itu, hingga tiba-tiba hatiku bergetar saat itu.

“Bila seorang wanita benar-benar kesepian lantaran ditinggal kekasihnya, maka tentu mereka—dan barangkali sebagian dari mereka atau keseluruhannya—akan mencoba menghalalkan segala cara agar mendapat kehangatan dan melipur laranya. Namun, semoga saja itu tak terjadi padamu, Lin,” lanjutku menimpali.

“Tentu. Percayalah!” lalu ia mendekapku, erat. “Percayalah, Gian. Pastilah kupertahankan kesetianku, hanya untukmu,” ucapnya dalam erat pelukku.

“Ingatkah dirimu akan cerita Rama dan Sinta. Tentu kau takkan lupa akan cerita yang selalu kau dongengkan padaku, dulu. Saat Sinta dibawa lari oleh Rahwana, ia tetap setia pada Rama, meski dijanjikan apa saja dan akan diberi apa saja yang sinta minta, tapi Sinta tetap mempertahankan kesetiaannya dan menolak rayuan raksasa penguasa Alengka itu. Sinta percaya, sangat percaya dan akan selalu percaya, kalau Rama, suaminya, akan terus mencari dan dengan segera akan menemukannya. Ia pun percaya akan kesetiaan Rama. Sinta tak pernah berpikiran bahwa Rama bisa saja tak mempedulikannya, meskipun Rama seorang raja tampan dan sudah barangtentu sepanjang perjalanan bisa saja ia tergoda pada wanita lain. Dan siapa berani menjamin kalau Rama tak ‘jajan’ di jalan? Ya, seperti itulah aku, Gian. Aku akan selalu setia.”

Aku hanya mengangguk-ngangguk. Dulu, memang itulah yang selalu kukisahkan sebelum Lin terlelap dalam mimpinya.

“Kesetiaan tidak akan menjadi kesalahan saat terus dipertahankan.”

“Ya, benar. Biarlah orang bicara apa saja tentang kita. Dunia boleh saja tak lagi peduli pada apa pun yang berkaitan dengan kesetiaan. Biarlah orang lain saling mengkhianati. Biarlah kehidupan babak-belur karena setiap orang tak bisa lagi saling percaya, asalkan kita tetap bisa mempertahankan kesetiaan. Itu penting bagi kita, Gian. Dan aku kira juga bagi setiap orang yang masih percaya bahwa kesetiaan masih punya harga di tengah dunia yang porak-poranda.”1

***

                Terlalu bodoh bila sepenuhnya kupertahankan kesetiaanku pada Gian, suamiku, yang telah lama tak membelaiku di malam-malamku yang selalu sunyi. Belum tentu juga ia bisa menjaga perasaannya. Siapa tahu ia malah ‘jajan’ di jalan dan entah juga tak bisa diperkirakan ia akan pergi ke keramaian malam, mabok, dan bergembira dengan beragam wanita. Bisa jadi. Sepertinya aku lebih yakin Gian melakukan hal itu.

Seorang lelaki—yang kutahu—ia takkan mampu untuk jauh-jauh dari pasangannya. Ingin mereka hanya cinta jarak dekat. Biasanya mereka paling tak tahan bila Long Distance Love—cinta jarak jauh. Sebentar-sebentar rindu, kangen, dan semacamnya. Kata-kata basi! Maka, jika rindunya tak segera terpenuhi, lantas mereka akan melampiaskannya. Menghambur ke jalanan, mencari sensasi dan kemegahan cinta taik kucing, atau bahkan juga mereka berjingkat ke pojok jalanan kota. Ya, bisa jadi mencari banci. Itulah gay… lelaki, manis dan lembut dalam merayu, itu senjatanya. Takkan mungkin dipungkiri juga hal yang demikian terjadi pada suamiku.

Gian, suamiku, takkan pernah tahu, di sini sebenarnya aku tak lagi menjaga kesetianku. Buat apa? Masa bodoh! Meskipun toh aku pun tak pernah tahu akan keadaan yang sebenarnya. Entah ia akan selingkuh, kawin lagi, dan semacamya—Ah, biarlah….

Suatu saat, ketika ia pulang, tentu seperti biasa ia akan bersikap manis padaku. Entah itu sungguhan ataupun tidak, aku tak tahu. Dan kali ini memang aku tak ingin tahu. Yang terpenting saat ini bagiku adalah aku bahagia dan tak pernah merasa kesepian hanya karena ditinggalkannya ke luar kota.

Hingga aku mengambil langkah praktis. Selingkuh. Ya, itulah jalan terbaik menuju bahagia. Selingkuh itu—menurutku—baik. Aku pun berpikiran sesungguhnya ada cara selingkuh yang baik. Semua orang tentu suka pada yang namanya ‘perselingkuhan’. Barangkali siapa pun mereka pasti akan senang melakukannya, terlebih aku.

Sebagai seorang istri yang dibanggakan suami lantaran kecantikan dan kesetiannya, aku pun merasa sangat berbangga hati. Engkaulah istri paling setia dan paling kucintai di dunia, ucap suamiku, dulu, berbisik mesra di relung telinga, menusuk ke jantung. Namun sungguh, itu dulu, dan kini aku malah kesal jika teringat semua itu. Teramat kesal!

Memang, bagi pasangan suami-istri, saat baru pertama mereka bersama (menikah), mereka selalu saling sayang, bahkan mencapai 100%. Terlebih bagi si suami. Jika suatu ketika si istri terjatuh, maka si suami akan segera memapahnya dengan penuh sayang. Seperti anak kucing saja! Setelah satu-dua minggu, saat si istri terpeleset, maka si suami akan berkata, “Hati-hati dong, sayang!” yang demikian masih biasa. Tapi setelah satu-dua bulan, saat si istri terjembab, maka si suami akan berucap, “Lihat-lihat dong. Jalan pake mata. Gak punya mata, ya?” perkataanya sangat kasar. Dan kejadian seperti itu, aku mengalaminya.

Hingga kini, sudah empat bulan Gian tak kuketahui kabarnya. Ia tak pernah memberi kabar padaku. Entah karena sibuk dengan pekerjaannya atau mugkin bisa jadi ia telah benar-benar melupakanku. Ia tak pernah pulang lagi. Apakah kau pikir aku merindukannya? Ya, aku merindukannya. Tapi, aku bukan merindukan untuk ia segera pulang. Aku lebih rindu kata ‘cerai’ darinya. Benar, aku tak mungkin bercanda. Kenapa seperti itu? Sebab, aku sudah mulai benar-benar bosan menunggunya. Apa, aku menunggunya? Ya, sesekali. Tapi kini kurasa tak lagi, karena dalam beberapa minggu ini, telah kutemui calon penggantinya. Tampan, keren, baik, dan barangkali setia. Tidak seperti Gian! Adapun lelaki itu…. Sudahlah, kau akan tahu dengan sendirinya di akhir cerita ini.

Lelaki itu bekerja di sebuah perkantoran juga. Mungkin juga sekantor dengan suamiku. Mungkin. Seminggu sekali ia datang menemuiku. Tidak mengapa meski hanya sekadarnya, daripada tidak sama sekali, seperti suamiku. Aku memaklumi. Aku tahu ia bekerja di luar kota juga.

Di saat lelaki itu datang padaku, acapkali ia akan membawaku keliling kota, makan di Plaza Senayan, pergi ke tempat keramaian dan bahkan ke tempat tersepi sekali-kali. Segala apa yang kuminta akan ia penuhi dengan segera. “Asal kau tak meminta bulan dan bintang,” begitu candanya.

Pernah juga di suatu ketika ia bercerita padaku tentang seorang lelaki yang mencintai teman sekantornya yang itu pun seorang lelaki. Menurut lelaki itu, bahwa teman lelaki yang dicintainya itu adalah lelaki paling indah di dunia2. Alasannya juga, lelaki itu mencintai teman lelaki sekantornya, karena lelaki itu bertujuan untuk sekadar mengobati rasa rindu yang mendera pada istrinya Aku selalu mendengarkan setiap cerita-cerita darinya. Setiap apa yang ia lakukan, tentu menyenangkan hatiku. Aku sangat mencintainya. Aku bangga bisa selingkuh dengannya.

“Lin, maukah kau menikah denganku?”

“Tentu aku mau, Diz. Teramat aku berharap akan kau segera melamarku. Jika kau sungguh akan menikahiku, aku pasti akan sangat siap untuk jadi istrimu, Diz,” ucapku dengan hati berbunga. Dan lelaki itu, ya, Diz sapaan akrabya, Dizyar Parela nama lengkapnya. Ia takkan pernah tahu bahwa aku sudah dimiliki orang lain.

 

Lubangsa Selatan, 12/12/2013

Catatan:____

1.Kutipan dari cerpen “Anaura” karya Agus Noor

  1. Judul cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Lelaki Paling Indah di Dunia”

 

 

*Dika Afandi, adalah siswa MA Tahfidh Annuqayah dan bergiat di Komunitas Cinta Nulis (KCN) PP. Annuqayah Lubangsa Selatan Guluk-Guluk Sumenep Madura 69463

*Dimuat di Majalah Jurnal Cerpen KCN edisi 3 Annuqayah

 

Cerpen Dika Afandi “Cara Selingkuh yang Baik” | dikaafandi | 4.5